Hanya saja pengunjung harus berjuang terlebih dahulu sebelum
menikmati kesegaran airnya mengingat akses menuju lokasi cukup sulit. Para pengunjung harus melewati bebatuan yang cukup licin sehingga harus ekstra hati-hati saat melangkah ke bebatuan lainnya.
Baca Juga: Tiga gol Inggris Singkirkan Senegal. Perancis menunggu di perempat final Piala Dunia 2022
5.Pasir Timbul Bone Labunta
Pernah tidak terbayangkan berada di tengah-tengah lautan tanpa penghuni Menikmati keindahan alam mendengar suara desiran ombak dan merasakan sejuknya angin sepoi-sepoi.
Pesona alam pantai ini akan membuatmu terhipnotis dan enggan untuk pulang. Bone Labunta merupakan salah satu kebanggaan Buteng, karena masuk dalam nominasi kategori destinasi baru pada Anugerah Pesona Indonesia api Power tahun 2020.
Untuk sampai di Bone Labunta pengunjung harus menggunakan perahu mesin dengan waktu tempuh sekitar 20 hingga 30 menit berangkat dari Dermaga pelabuhan feri Mawasangka.
Baca Juga: 7 Kuliner Ekstrim di Jateng dan Yogyakarta, dari Sate Landak Sampai Rica-rica Bulus
Tempat ini sangat unik dikarenakan di Indonesia sendiri Pasir Timbul, yang seperti ini masih bisa dihitung jari dan salah satunya ada di Buteng. Rasa suntuk dijamin hilang ketika menginjakkan kaki di sini .
6. Pantai Katembe
Pantai Katembe mungkin tidak asing bagi masyarakat Buton Sulawesi Tenggara. Pantai ini terletak di desa Madongka Buton Tengah.
Hamparan pasir putih dan juga lautan yang biru adalah pemandangan pertama yang akan menyapa anda. Hamparan pasir putihnya bahkan membentang dari jalan masuk pantai hingga di tepiannya membuatnya banyak digunakan sebagai sarana olahraga seperti voli pantai dan juga sepakbola.
Namun pantai Katembe ini juga dikenal lantaran kilauan pasir putihnya. Nama Katembe sendiri dalam bahasa setempat memiliki arti air tawar.
Yang membuat menarik, Anda akan menemukan sumur yang berisi air tawar dengan jarak 30 meter dari bibir pantai .
Memang hal ini tidak umum ditemui di pantai-pantai yang lain inilah yang membuat pantai satu ini begitu unik. Sumur inilah yang digunakan oleh warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sementara wisatawan juga bisa memanfaatkan untuk membilas tubuh.