Theodore Verhoven mengeksplore secara ilmiah pertama kali pada tahun 1951. Arkeolog berkebangsaan Belanda ini meyakini bagian gua tadi merupakan bagian dari ekosistem purba bawah laut termasuk di dalamnya adalah Pulau Flores serta pulau-pulau di Nusa Tenggara Timur.
Baca Juga: Goa Kebon Krembangan, Pesona Tersembunyi di Balik Air Terjun. Bisa Buat Camping Juga Lho!
Ini terjadi ketika seluruh daratan Pulau Flores masih menjadi bagian dari laut purba dan kemudian sebagiannya terangkat menjadi daratan akibat pergeseran yang menyebabkan gempa tektonik besar di Lempeng Indo-Australia di bawah Busur Sunda-Banda yang terjadi 50 juta tahun silam.
Dikutip dalam laporan penelitian Riza Rahardiawan dan Catur Purwanto dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan, Kementerian Energi Sumber Daya Mineral, mengenai struktur geologi Flores yang dilakukan pada 2014.
Setelah menikmati aneka fosil kehidupan bawah laut di ruang utama, kita dapat beranjak ke ruang lain yang menjadi alasan utama dari nama gua ini.
Yaitu terdapat bias sinar matahari yang masuk dari sebuah celah besar dan sangat tinggi, tepat di atas kepala kita, menerobos masuk sehingga membuat suasana di dalam gua menjadi terang.
Baca Juga: Pandemi Segera Berakhir, Ini Empat Tips Bagi Fresh Graduate untuk Raih Pekerjaan Impian
Pendaran sinar matahari bila terkena dinding batu-batu stalaktit dan stalagmit akan tampak seperti berkilauan dan memantul, persis seperti sebuah cermin. Sangat indah dan menarik untuk dijadikan latar berfoto.
Karakternya yang berupa batu karang purba serta berpori. Batuan jenis ini bagus untuk memantulkan sinar dan kurang baik untuk memantulkan suara atau terjadinya resonansi. Karena itu, sekeras apa pun kita berteriak di ruang ini, tidak akan menciptakan gema.
Selain Gua Batu Cermin, Labuan Bajo juga terkenal dengan wisata air terjun atau disebut juga cunca seperti Cunca Wulang, Rami, Lolos, serta lainnya.***