pariwisata

Gunungan Kakung di Pura Pakualaman Kudes Diserbu

Rabu, 18 September 2024 | 19:58 WIB
gunungan yang dibagikan pada prosesi pelaksanaan Grebeg Mulud (Pemprov Yogya)

TITIKTEMU.CO, Kraton Yogyakarta telah melaksanakan rangkaian peringatan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan menggelar Hajad Dalem Sekaten sejak Senin (09/09) hingga Minggu (15/09). Puncak peringatan Maulid Nabi 2024 ditandai dengan digelarnya Grebeg Mulud, Senin (16/09). Sebanyak tujuh gunungan diarak dari Keraton Yogyakarta menuju Masjid Gedhe. 

Terdapat lima jenis gunungan yang dibagikan pada prosesi pelaksanaan Grebeg Mulud yakni Kakung, Estri/Wadon, Gepak, Dharat, dan Pawuhan. Adapun tiga Gunungan Kakung untuk Masjid Gedhe, Pura Pakualaman dan Kepatihan. Gunungan lainnya masing-masing berjumlah satu buah ikut dibagikan di Masjid Gedhe bersama dengan satu Gunungan Kakung. 

Sedangkan Kompleks Kepatihan dan Ndalem Mangkubumen menerima ubarampe rengginang sebanyak masing-masing 100 buah. Gunungan sendiri merupakan simbol sedekah raja kepada rakyat sekaligus wujud syukur Kraton Yogyakarta sekaligus mendekatkan hubungan, baik antara manusia dan Tuhan maupun antar manusia.

Baca Juga: Prosesi Miyos Gangsa , Prosesi Kraton Yogya Jelang Maulid

Setibanya di Halaman Pura Pakualaman, Gunungan Kakung diserahkan perwakilan Utusan Dalem Keraton Yogyakarta kepada KRT Projo Anggonos elaku perwakilan dari Pura Pakualaman. Usai diserahterimakan dan didoakan, GKBRAA Paku Alam mewakili Kadipaten Pura Pakualaman terlebih dulu mengawali mengambil ubarampe pareden gunungan tersebut.

Tak lama kemudian, gunungan Kakung kembali dibawa keluar menuju Alun-alun Pura Pakualaman untuk dibagikan kepada masyarakat yang telah dengan setia.menanti prosesi upacara tersebut. Dalam waktu singkat, isi gunungan atau ubarampe pareden gunungan tersebut ludes diserbu warga yang sangat bersemangat.

"Ikut nguri- nguri budaya sekaligus mendapatkan berkah dari keraton. Sudah menjadi rutinitas saya setiap tahun apabila ada grebeg gunungan uang dikirimkan ke Pura Pakualaman. Pokoknya harus ikut dan pasti datang," tegas warga Gunung Ketur Pakualaman, Yuli.

Senada, Stefani Leni Putranti asal Kota Yogyakarta menyampaikan tradisi grebeg gunungan ini yang sudah menjadi acara rutin setiap tahun dari Keraton Yogyakarta. Tradisi unik ini dipercayai masyarakat sekitar apabila berhasil mendapatkan uba rampe gunungan akan membawa berkah. Kali ini, ia mendapatkan cukup banyak ubarampe yang akan disimpan dirumah. 

Baca Juga: Festival Ampyang Maulid Di Kudus , Peringatan Maulid Sekaligus Meningkatkan Keberadaan UMKM

Yang juga paling mencolok adalah arak-arakan empat ekor gajah diikuti bregada Pura Pakualaman, yaitu Dragunder dan Plangkir mengawal Gunungan Kakung dengan gagah dari Keraton Yogyakarta hingga tiba di Pura Pakualaman sekitar pukul 11.00 WIB. Empat ekor gajah yang dilibatkan dalam mengawal arak-arakan grebeg mulud ini berasal dari Kebun Binatang Gembira Loka. 

Keikutsertaan gajah - gajah tersebut justru menjadi daya tarik tersendiri dan berhasil memikat warga, terlebih anak-anak yang sangat antusias sekali. Seperti disampaikan salah seorang warga Sleman, Mari bersama ketiga anaknya. Ia sengaja datang menyaksikan Grebeg di Pura Pakualaman karena ada gajahnya. Anak-anaknya sangat ingin melihat iring-iringan gajah tersebut.

Sebelumnya, Penghageng KHP Widya Budaya, KRT Rintaiswara pelaksanaan Grebeg Mulud tahun ini dilakukan dengan iring iringan bregada prajurit dan tujuh gunungan. Gunungan yang berada di Bangsal Pancaniti, Kamandungan tor dibawa Kanca Abang melalui Regol Brajanata Sitihinggil Lor Pagelaran keluar lewat barat Pagelaran menuju Masjid Gedhe untuk didoakan.

Baca Juga: Prosesi Numplak Wajik, Tandai Pembuatan Tujuh Gunungan Grebeg Mulud

"Adapun 10 bregada kraton yang mengawal gunungan tersebut yakni Wirabraja, Dhaeng, Patangpuluh, Jagakarya, Prawiratama, Ketanggung, Mantrijero, Nyutra, Bugis, dan Surakarsa. Bregada Bugis mengawal gunungan hingga Kepatihan," ujar Kanjeng Rinta.

Menurut Kanjeng Rinta, sejatinya grebeg itu sendiri merupakan salah satu upacara yang hingga saat ini rutin dilaksanakan Keraton Yogyakarta. Kata Garebeg, berasal dari bahasa Jawa, memiliki arti berjalan bersama-sama di belakang Ngarsa Dalem atau orang yang dipandang seperti Ngarsa Dalem. “Sayuran serta palawija yang menjadi bahan dalam gunungan melambangkan bahwa sejatinya kita adalah masyarakat agraris,” imbuhnya.

Halaman:

Tags

Terkini