Film Gita Cinta dari SMA versi baru ini juga menggunakan bahasa baku untuk pengucapan dialog dari seluruh karakternya.
Monty Tiwa mengatakan bahwa penggunaan bahasa baku ini penting untuk menandakan era di mana pada masa itu belum ada bahasa gaul yang digunakan anak muda zaman sekarang.
Baca Juga: ASEAN Tourism Forum (ATF) 2023 di Yogya Sukses. Nilai Transaksi Mencapai Rp 8 Miliar Lebih
Selain itu penggunaan Bahasa Indonesia yang baku akan terdengar lebih mengena dan romantis, lanjut Tiwa
Hal paling menarik mata adalah ketika adegan perayaan ulang tahun sahabat Ratna. Terlihat jelas nuansa pesta era 80-an di sana, mulai dari properti hingga gaya berbusana para karakternya.
Film ini dapat dikatakan berhasil dalam menyuguhkan nuansa nostalgia era 1980-an, khususnya bagi mereka yang memang sudah sempat menonton versi orisinal dari Gita Cinta dari SMA.
Baca Juga: Jurnalis Jadi Pengusaha Media di Era Digital Bukan Impian Lagi. Kuncinya Sinergi dan Kolaborasi!
Versi garapan ulang Gita Cinta dari SMA yang setia pada film aslinya ini tetap relevan dengan masa kini. Kisah legendaris Galih dan Ratna mampu dihidupkan kembali dengan membawakan kisah cinta dengan berbagai konflik sosial yang tak lekang oleh zaman.
Film ini patut disaksikan, selain membuat perasaan yang naik-turun, Gita Cinta Dari SMA versi ini mampu membawa penonton bernostalgia dengan kisah cinta di era 80-an.***