Baca Juga: Badut Gendong, Spin off Qodrat: Lebih Horor, Lebih Brutal!
Sentuhan Kuliner Nusantara
Salah satu daya tarik serial ini adalah eksplorasi kuliner Nusantara. Restoran Umah Rasa digambarkan menyajikan makanan khas Indonesia dengan tampilan yang lebih modern dan artistik.
Tim produksi bahkan melibatkan food stylist dan food designer untuk memastikan setiap hidangan terlihat autentik sekaligus menarik secara visual.
Hal ini membuat pengalaman menonton menjadi lebih hidup, seolah penonton ikut berada di dalam dapur.
“Makanan yang ditampilkan sebenarnya sederhana, seperti masakan rumahan Indonesia. Tapi kami ingin menyajikannya dengan cara yang lebih estetis dan menggugah selera,” jelas Teddy.
Baca Juga: Dari Perfect Crown ke Drakor Legendaris: 7 Karya Sutradara Park Joon-hwa yang Bikin Nagih!
Belajar Langsung di Dapur
Untuk mendalami peran, para pemain menjalani workshop memasak sebelum proses syuting. Mereka dilatih agar mampu bergerak dan bekerja layaknya chef profesional di dapur restoran.
Pengalaman ini memberikan perspektif baru bagi para aktor, termasuk Deva Mahenra dan Mawar Eva de Jongh, yang baru tahu betapa beratnya tekanan kerja para chef.
Melalui pendalaman karakter, para pemain semakin menghargai profesi chef yang selama ini sering dipandang sederhana. Padahal, di balik setiap hidangan ada kerja keras, disiplin, dan kemampuan multitasking yang tinggi.
Serial ini tidak hanya menghadirkan drama dan hiburan, tapi juga membuka wawasan tentang dunia kuliner dan hubungan manusia yang kompleks. Luka, Makan, Cinta menjadi tontonan yang hangat, sekaligus menyentuh.
“Setelah memahami kehidupan di dapur yang begitu penuh tekanan, saya semakin menghargai kerja keras para chef. Mereka luar biasa,” ujar Deva.***