TITIKTEMU.CO - “Aku mau besok, besok, dan besoknya lagi tetap seperti ini,” kata Na Willa—sebuah kalimat sederhana yang merangkum kebahagiaan seorang anak enam tahun yang hidupnya terasa lengkap karena dikelilingi Mak, Pak, sahabat-sahabatnya, Mbok, buku-buku kesayangan, serta sepiring ikan bandeng goreng favorit yang selalu membuat harinya terasa sempurna.
Melalui sudut pandang polosnya, Na Willa memotret kehidupan di Surabaya pada akhir 1960-an sebagai dunia yang penuh warna, tempat gang sempit, pasar tradisional, hingga tanah lapang biasa berubah menjadi arena petualangan yang tidak pernah membosankan.
Di gang kecil Krembangan yang hanya cukup dilalui becak dan sepeda onthel, Na Willa dan teman-temannya menemukan kebebasan untuk bermain balap lari, menerbangkan layang-layang, atau sekadar adu kelereng sambil menunggu kereta melintas di ujung gang.
Bahkan Pasar Krembangan yang bagi orang dewasa mungkin terasa panas dan riuh justru berubah menjadi taman bermain bagi Na Willa—tempat ia menikmati sensasi memasukkan tangan ke dalam karung kacang hijau di kios Cik Mien, melihat warna-warni dagangan, dan sesekali mendapat minuman bersoda yang rasanya “nyekrusss”.
Baca Juga: Wacana War Ticket Haji Ramai Dibahas, Pemerintah Tegaskan Masih Tahap Kajian
Dari Buku ke Layar Lebar
Kisah Na Willa sebenarnya berasal dari buku karya Reda Gaudiamo, yang kemudian diadaptasi menjadi film oleh sutradara Ryan Adriandhy dan dirilis pada 18 Maret 2026.
Film ini menghadirkan berbagai karakter yang menghidupkan dunia Na Willa, mulai dari Na Willa yang diperankan Luisa Adreena, hingga sosok Mak yang hangat diperankan Irma Rihi dan Pak yang dimainkan Junior Liem.
Kehadiran para tokoh ini membuat dunia kecil Na Willa terasa hidup dan dekat dengan keseharian keluarga Indonesia.
Baca Juga: Drama Korea Bertema Chaebol Paling Ikonik: Dari Cinta Kontrak hingga Dunia Elite yang Penuh Intrik
Kamera yang Mengikuti Imajinasi Anak
Salah satu kekuatan film ini terletak pada cara kamera mengikuti sudut pandang Na Willa sebagai seorang anak.
Teknik pengambilan gambar seperti low angle membuat beberapa tokoh dewasa tampak lebih besar dan mengintimidasi, misalnya saat Na Willa bertemu kepala sekolah Bu Tini, sehingga penonton bisa merasakan bagaimana dunia terlihat dari ketinggian mata seorang anak.
Film ini juga menggunakan banyak static shot, yaitu kamera yang tetap diam sementara aktivitas berlangsung di dalam frame, memberikan ruang tenang bagi penonton sekaligus menciptakan nuansa keseharian yang terasa natural.