Selain TIFF 2024, film ini juga diputar di Busan International Film Festival (BIFF), BFI London Film Festival, dan SITGES Film Festival di Spanyol yang dikenal sebagai ajang bergengsi bagi film bergenre horor dan fantasi.
Respons kritikus luar negeri pun cukup positif. Mereka memuji bagaimana film ini menggabungkan elemen budaya lokal dengan pendekatan visual yang modern dan penuh simbolisme.
Beberapa menyebut Crocodile Tears sebagai salah satu film horor Indonesia yang paling orisinal dalam satu dekade terakhir.
Berbeda dari film horor konvensional yang penuh adegan mengejutkan, Crocodile Tears lebih menekankan ketegangan batin dan atmosfer misterius.
Tumpal menggunakan pendekatan sinematografi yang halus, dengan pencahayaan lembut dan warna-warna gelap yang membangun kesan surealis.
Setiap frame dibuat seolah menjadi lukisan, penuh detail dan simbol, menggambarkan keputusasaan, cinta, dan kehilangan.
Musik latar yang minimalis membuat suasana menjadi semakin menegangkan, membiarkan keheningan berbicara lebih banyak daripada dialog.***