entertainment

Kethoprak Sriwedari Pentaskan Lakon Sungging Prabangkara: Kisah Terbentuknya Kota Surabaya

Rabu, 8 Oktober 2025 | 21:29 WIB
Kethoprak Sriwedari Pentaskan Lakon Sungging Prabangkara: Kisah Terbentuknya Kota Surabaya (Istimewa)

SOLO – Pecinta seni tradisional kembali dimanjakan sepekan sekali dengan pementasan Kethoprak Sriwedari yang akan digelar pada Minggu, 12 Oktober 2025 pukul 19.30 WIB di Gedung Wayang Orang Sriwedari, Solo. Kali ini, lakon yang diangkat berjudul Sungging Prabangkara: Dumadine Kutha Surabaya, sebuah kisah penuh legenda tentang terbentuknya Kota Surabaya pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit.

Pementasan ini menjadi bagian dari program rutin Kethoprak Sriwedari setiap Minggu malam, yang kini telah menjadi wadah pelestarian budaya sekaligus hiburan rakyat yang tetap eksis di tengah arus modernisasi.

Manajer Kethoprak Sriwedari, Tatag Prihantoro, mengungkapkan bahwa pementasan ini merupakan kelanjutan dari upaya menjaga eksistensi kesenian kethoprak yang sempat berpindah-pindah tempat.

Sebelumnya, grup ini tampil dengan nama Kethoprak Balekambang ketika Taman Balekambang belum direnovasi, pun demikian menggunakan nama Kethoprak Ngampung ketika pentas keliling di sejumlah kabupaten dan kota.

Baca Juga: Jadwal Pesta Kesenian Bali 2025: Parade Seni Tradisi Wayang Kulit, Gong Kebyar, hingga Janger

"Sudah beberapa bulan ini kami kembali aktif menggelar pementasan rutin sebagai Kethoprak Sriwedari. Ini adalah bentuk komitmen kami menjaga kelangsungan seni tradisional, terutama di tengah tantangan zaman yang terus berubah," ujar Tatag.

Ia juga menambahkan bahwa meskipun Taman Balekambang kini telah rampung direnovasi, pihaknya masih menggunakan Gedung Wayang Orang Sriwedari sebagai tempat tetap pertunjukan mingguan.

Lakon Sungging Prabangkara disutradarai oleh Seno, seorang seniman yang telah lama bergelut di dunia kethoprak. Cerita ini mengangkat legenda terbentuknya Kota Surabaya sebagai pusat pemerintahan di masa Majapahit, jauh sebelum berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Baca Juga: Tips Dan Trik: Dompet Kering atau Hati Tenang? Seni Mengatur Keuangan Rumah Tangga dengan Bijak

"Ini bukan sekadar tontonan, tapi tuntunan. Cerita ini menyimpan pesan tentang semangat, kebijaksanaan, dan bagaimana leluhur kita merancang tata kota dan pemerintahan dengan kearifan lokal," jelas Seno.

Dalam kisah ini, tokoh Sungging Prabangkara digambarkan sebagai sosok sakti dan bijaksana yang mendapat wahyu untuk mendirikan sebuah kota baru di wilayah timur Jawa. Konflik dengan tokoh-tokoh lain, termasuk petinggi kerajaan dan rakyat, menjadi bumbu dalam cerita yang sarat nilai moral dan filosofi.

Kethoprak Sriwedari juga terus berbenah untuk menarik minat generasi muda. Mulai dari tata panggung yang lebih modern, musik pengiring yang disesuaikan tanpa menghilangkan nuansa tradisional, hingga promosi melalui media sosial aktif dilakukan.

Baca Juga: Kerokan: Karya Seni Mahasiswa ITB yang Menginspirasi di Basoeki Abdullah Art Award #5

"Kami ingin anak-anak muda merasa bangga dengan budaya mereka sendiri. Dengan hadir menonton kethoprak, mereka tidak hanya menikmati hiburan, tapi juga belajar sejarah dan nilai-nilai luhur bangsa," pungkas Tatag.

Halaman:

Tags

Terkini