Menggali Sisi Emosional Panji
Film animasi ini tidak sekadar mengulang kisah lama. Daryl menegaskan tim produksi berusaha menggali sisi emosional karakter Panji lebih dalam, karena ceritanya bukan sekadar pertarungan silat.
“Secara cerita, kami tidak menyalin komik 100 persen. Kami hanya mengambil DNA karakternya, lalu mengembangkan dunia baru untuk menghadirkan kisah yang relevan dengan masa sekarang,” tambahnya.
Latar cerita tetap masa Jawa kuno, ketika kerajaan-kerajaan kecil saling berebut kekuasaan. Unsur budaya dan sejarah menjadi fondasi dengan sentuhan imajinasi khas animasi.
Melibatkan 250 Animator
Sebagai film animasi, Panji Tengkorak melibatkan sekitar 250 pekerja seni, termasuk animator, penulis naskah, desainer, hingga ahli efek visual. Dengan pengerjaan yang profesional.
“Kami tidak ingin terburu-buru. Targetnya bukan sekadar tayang, tapi harus menjdi film yang kualitasnya membanggakan,” ujar Daryl.
Proses kreatif film ini memakan waktu sekitar tiga tahun, untuk memastikan setiap aspek animasi benar-benar berkualitas. Semua ini sebagai upaya membawa animasi Indonesia bersaing di pasar global.
Baca Juga: Sinopsis The Conjuring: Last Rites, Penutup Perjalanan Supranatural Ed dan Lorraine Warren
Jalan Cerita yang Penuh Konflik
Film Panji Tengkorak mengisahkan perjalanan seorang pendekar bernama Panji yang rela menyerahkan jiwanya pada kekuatan gelap demi membalas dendam atas kematian istrinya.
Namun, keputusan iru membuatnya terjerat dalam kendali ilmu hitam. Dalam pengembaraan, dia bertemu pendekar tua yang memintanya membantu menangkap pencuri kitab pusaka.
KItab pusaka tersebut diyakini mampu melawan kekuatan ilmu hitam yang mengikat Panji. Dari sinilah, kisah Panji melebar ke dalam konflik besar antar dua kerajaan sekaligus membuka rahasia kelam masa lalunya.
Baca Juga: Dibintangi Bae Suzy dan Kim Woo Bin, Drama Korea Genie, Make A Wish Tuai Kritik Netizen, Kenapa?