entertainment

Film Animasi Merah Putih One For All Banyak Dikritik, Netizen: Kalah Jauh dari Jumbo!

Minggu, 10 Agustus 2025 | 10:02 WIB
Film Animasi Merah Putih One For All Banyak Dikritik, Netizen: Kalah Jauh dari Jumbo! (Perfiki Kreasindo)

TITIKTEMU.CO - Film animasi Merah Putih One For All viral di media sosial setelah merilis poster dan trailer resminya. Sayangnya, perbincangan mengenai film ini bukan dari sisi positif.

Alih-alih mendapat pujian dan sambutan hangat, Merah Putih One For All justru banjir kritik dan komentar miring dari warganet, terutama soal kualitas visual animasi yang dianggap belum layak tampil di layar lebar.

Rencananya, film animasi ni tayang di bioskop mulai Kamis, 14 Agustus 2025, bertepatan dengan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Indonesia ke-80.

Baca Juga: 10 Film Kemerdekaan Indonesia yang Wajib Ditonton Saat HUT RI, Salah Satunya Perang Kota

Produksi Merah Putih One For All

Film animasi Merah Putih One For All digarap rumah produksi Perfiki Kreasindo, dengan produser Toto Soegriwo dan dukungan dari Yayasan Pusat Perfilman H. Usmar Ismail.

Disutradarai Endiarto dan Bintang, film animasi berdurasi 70 menit ini mengusung tema kemerdekaan dengan pesan nasionalisme. Poster film menampilkan delapan anak-anak dengan bendera Merah Putih berkibar.

"Kami kecil... Tapi cinta kami untuk Merah Putih tak pernah kecil. Dari perbedaan, kami temukan kekuatan," demikian slogan yang tertulis dalam poster tersebut.

Film ini disebut sebagai animasi anak Indonesia pertama yang mengangkat tema kebangsaan. Tujuannya untuk membangun rasa cinta Tanah Air sejak dini melalui cerita petualangan.

Baca Juga: Film The Fox King Bakal Tayang Perdana di TIFF 2025, Dibintangi Dian Sastrowardoyo

Sinopsis Merah Putih One For All

Cerita berfokus pada sekelompok anak dari berbagai daerah di Indonesia yang terpilih menjadi Tim Merah Putih. Mereka tinggal di sebuah desa yang tengah mempersiapkan peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus.

Tugas utama mereka adalah menjaga Bendera Pusaka yang akan dikibarkan dalam upacara kemerdekaan. Namun, tiga hari sebelum acara dimulai, bendera itu menghilang secara misterius.

Kedelapan anak yang berasal dari latar belakang berbeda; Betawi, Papua, Medan, Tegal, Jawa Tengah, Makassar, Manado, dan keturunan Tionghoa. Mereka bersatu demi menemukan kembali Bendera Pusaka.

Halaman:

Tags

Terkini