TITIKTEMU.CO - Fenomena S Line, garis merah yang melayang di atas kepala karakter dalam drama Korea S Line, sedang menjadi bahan perbincangan hangat di media sosial.
Awalnya, garis merah ini sebagai penanda hubungan seksual antar individu. Namun, banyak penonton mulai membaca makna yang lebih dalam di mana S Line seolah memetakan dosa, rahasia, dan perilaku moral yang saling terhubung.
Dari sinilah muncul pembahasan menarik, apakah S Line juga bisa dibaca sebagai metafora Seven Deadly Sins atau Tujuh Dosa Besar?
Cerita Drakor S Line
Cerita dimulai ketika muncul fenomena visual, yaitu garis merah di atas kepala orang-orang yang pernah terhubung secara seksual. Garis-garis itu saling bertaut, membentuk jaringan hubungan.
Aib berguguran. Rahasia masa lalu terekspose. Rasa malu berganti kemarahan, iri, dan kekacauan sosial. Dari sini, penonton mulai menemukan lapisan moral yang lebih kelam.
Tren S Line challenge pun merebak. Pengguna media sosial menggambar garis merah di foto profil, bercanda soal jumlah koneksi, atau membuat thread spekulatif tentang teman yang garisnya bercabang banyak.
Meski banyak yang sekadar ikut tren, sebagian warganet memutar arah, mereka memakainya sebagai metafora toxic relationship, pengkhianatan, hingga kekerasan berbasis relasi.
Dengan kata lain, S Line berkembang dari indikator hubungan seksual menjadi peta moral sosial. Dan di sinilah pembacaan Seven Deadly Sins jadi menarik.
Baca Juga: Sore: Istri dari Masa Depan Tembus 1,3 Juta Penonton dalam 11 Hari
Apa Itu Seven Deadly Sins?
Istilah Seven Deadly Sins atau Tujuh Dosa Besar berkembang dalam tradisi pemikiran Kristen Barat, dikodifikasi antara lain oleh Paus Gregorius Agung (abad ke-6) dan dibahas Thomas Aquinas (abad ke-13).
Daftar itu memetakan kecenderungan batin yang, jika dibiarkan, memicu tindakan destruktif terhadap diri dan orang lain. Nah, tujuh dosa besar tersebut adalah: