Kritik terhadap Standar Kecantikan
The Ugly Stepsister bukan hanya film horor biasa. Film ini memberikan kritik tajam tentang bagaimana masyarakat sering menilai seseorang hanya dari penampilan fisik.
Dalam film ini, Elvira digambarkan sebagai perempuan yang menjadi korban dari sistem yang terlalu memuja kecantikan, dan menjadikan tubuh perempuan sebagai objek.
Film ini mengajak penonton untuk merenungkan: sampai sejauh mana seseorang akan mengorbankan dirinya demi menjadi cantik? Ctra tubuh ideal ternyata bisa menjadi tekanan luar biasa bagi perempuan.
Baca Juga: Live Action Lilo and Stitch Pecahkan Rekor Box Office, Salip Mission: Impossible
Review The Ugly Stepsister
Berbeda dengan Cinderella versi dongeng, dalam film ini tokoh Agnes, saudara tiri Elvira, tidak digambarkan sebagaisosok jahat. Sebaliknya, dia menjadi simbol dari perempuan yang selalu tampil sempurna.
Dari sisi visual, The Ugly Stepsister tampil sangat kuat. Sinematografi garapan Marcel Zyskind berhasil menciptakan atmosfer kelam khas abad ke-18 dengan sentuhan gotik yang kental.
Efek riasan dan visual dalam menggambarkan perubahan tubuh Elvira juga sangat meyakinkan. Proses transformasinya terasa nyata dan membuat penonton merasa terteror dengan perubahan ekstrim tubuh Elvira.
Baca Juga: Jadwal Tayang Our Unwritten Seoul di tvN, Sinopsis dan Daftar Pemeran
Tanggapan Kritikus Film
Sejak debutnya di Sundance Film Festival 2025, The Ugly Stepsister langsung mencuri perhatian kritikus internasional. Film ini mendapatkan respons positif karena keberaniannya mengangkat tema sensitif lewat medium horor.
Banyak yang menyebut film ini sebagai salah satu debut penyutradaraan terbaik tahun ini. Situs agregator ulasan Rotten Tomatoes memberi skor 98%. Sementara di Metacritic, film ini mencatat skor 71.
The Ugly Stepsister memberikan perspektif baru terhadap dongeng indah Cinderella nyang berakhir bahagia. Keunikan lain dari The Ugly Stepsister, tidak ada tokoh yang sepenuhnya baik atau jahat.
Sebab, semua karakter dalam film ini sebenarnya adalah korban dari budaya yang tidak sehat, BUdaya yang terus menekan para perempuan untuk memenuhi standar kecantikan yang tidak realistis.***