Idealisme keindonesiaan menjadikan Lafran Pane memiliki visi besar dalam perjuangannya. Pengalaman perih getir harus dilalui Lafran Pane dalam membela orang kecil .
Baca Juga: Bertabur Bintang, Ini Sinopsis Death’s Game yang Tayang Desember di Prime Video
Pada masa pendudukan Jepang, Lafran Pane sempat ditahan karena membela para peternak sapi. Namun, dia akhirnya dibebaskan setelah ayahnya menebus dengan menyerahkan bus Sibual-buali pada tentara Jepang.
Sejak itu, Lafran justri semakin antusias terlibat dalam berbagai arus gerakan kemerdekaan,. Da termasuk pemuda yang mendorong Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI.
Nah, semasa kuliah di Yogyakarta, Lafran gelisah dnegan keberadaan kalangan muslim terpelajar yang terlalu larut dalam pemikiran sekular.
Baca Juga: Rekomendasi 10 Serial Terbaru Netflix November, Jangan Lewatkan
Mereka kerap melupakan ibadah utama. Dari kegelisahan ini, muncul gagasan Lafran untuk mendirikan Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI). Rganisasi masa ini berjuang dalam jalur keislaman dan keindonesiaan.
Bukan perjuangan mudah. Di tengah arus politik aliran yang sangat kencang pada masa itu, keberadaan HMI justru ditentang banyak organisasi massa Islam lain.
Apalagi dengan munculnya resistensi yang diakukan gerakan kelompok sosialis. Namun, pertentangan dan gesekan justru membuat Lafran betekat menegakkan HMI.
Baca Juga: Malam Para Jahanam, Teror Roh Gentayangan Semasa Pemberontakan G30 S PKI
“Saya Lillahi Taala untuk Indonesia…” adalah ucapan Lafran Pane yang punya daya magis kuat menjadi perekat HMI hingga kini.
Produser Eksekutif film Lafran, Arief Rosyid Hasan, mengungkapkan ide pembuatan film Lafran ini berawal dari ide Akbar Tandjung.
“Film ini untuk mengingatkan pentingnya peran HMI dan organ-organ pendukungnya untuk kembali memperjuangkan cita-cita dan gagasan Lafran Pane tentang keindonesiaan yang menyatukan,” katanya.***